Aku menatap undangan
ditanganku dengan seksama. Kubalik undangan berwarna pink itu berkali-kali. Kubaca tulisannya hingga
aku mulai hafal bentuk hurufnya. Aku masih tak percaya bahwa lusa esok aku tidak akan semuda sekarang. Aku
tesenyum sendiri mengingat bagaimana kelakuanku dulu, mungkin ada sebagian yang
masih kuingat jelas, sangat jelas. Dia yang selalu ada untukku.
Aku berbohong jika
mengatakan tidak cemas saat menjalani hari-hari awal dikampusku. Semua terasa
asing, dan mungkin karna diriku sendiri pula yang terbiasa menutup diri dari
orang lain. Aku menjalani hari-hari ku seperti biasa dikampus baru ku ini.
Tanpa sadar bahwa seminggu lagi akan diadakan ujian. Aku bergegas menghampiri Vian, teman dekat lelakiku disini. Memang,
jurusanku dan jurusannya agak berbeda tapi entah aku merasa sangat nyaman bila
ada didekatnya. Kulihat Vian tersenyum tenang. Senyuman itu lagi. Yang
membuatku bingung sekaligus merindukannya. Senyuman penghipnotis. Aku menunduk,
memasukkan bukuku ke tas. Aku dan Vian memang hampir tiap hari bersama. Vian,
dia memang satu-satunya yang berada disisiku. Tapi sayangnya, yang berada
disisimu sekarang belum tentu milikmu. Seperti itulah Vian bagiku. Sangat dekat
tapi tak tergapai. Dalam hati, aku terus menambahkan, mungkin belum tergapai.
Vian menawarkan
cemilan yang dibelinya. Aku mengambil beberapa dan ikut memakannya. Selesai
dari bioskop kami memutuskan untuk menghabiskan malam disalah satu mall. Aku
tidak ingin cepat-cepat kembali kerumah. Lebih tepatnya, aku tak ingin hari ini
cepat berakhir. “Rin,” panggilnya tiba-tiba membuka suara. “kamu tahu jalan
cerita film tadi, kan? Dua tokoh utamanya kelihatan deket banget, tapi ternyata
diakhir cerita mereka mesti pisah. Menurutmu, gimana kalau suatu hari kita
ngalamin itu?” entahlah pertanyaan itu membuatku merasa takut . aku segera
menoleh kearahnya, mencoba menemukan senyum penghipnotis yang membuatku percaya
bahwa hal itu bukan pertanyaan serius. Dan sedetik kemudian yang kuharapkan itu
muncul. “itu konyol kan?” ujarnya membalik pertanyaannya sendiri. Aku perlahan
ikut tersenyum bersamanya.
Aku mengetuk pintu kamar kost-kostannya itu berkali-kali aku tidak bisa tidur sebelum melihat sosoknya dihadapanku. Aku terus mengetuk pintunya dengan tangan yang sedikit bergetar. Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka. Vian berdiri diambang pintu, dengan kaus hitam yang kusut, serta mata nyaris terpejam. “Arin, ada apa?” tanyanya dengan suara yang sedikit serak, khas orang bangun tidur. Tanganku yang bergetar membaik perlahan saat wajahnya muncul didepanku. “kamu udah makan? Laper ngga?” aku tau itu pertanyaan bodoh. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Vian pun tak menunjukkan ekspresi kelaparan. Aku sudah mempersiapkan diri pada penolakkan dan berencana untuk membalikkan badan saat dia berucap, “kamu masak apa?” Aku kembali mendongak, menatapnya. Matanya masih setengah terpejam. Sama sekali tak terdengar bunyi tanda lapar dari perutnya. “mau mi instan?” tanyaku pelan.
Kubuka bungkus mi dan mulai memasak mi itu, kubuka bumbu-bumbu itu. Kumasukkan bumbu-bumbu itu dengan hati hati. “hacchih!” bubuk cabe itu ikut tersebar dilantai saat aku bersin. Otomatis tubuhku melangkah mudur dan… prang! Salah satu mangkuk dibelakangku tanpa sengaja jatuh dan pecah, tersebar dilantai. “ada apa Rin?” Tanya Vian yang segera berlari menyusulku kedapur. Sebelum aku sempat menyentuh salah satu pecahan itu, kurasakan tangan hangat Vian menahan pundakku.
“Udah biar aku saja,”
ucapnya.
“kamu udah capek.
Lihat mata kamu itu! Mendingan kamu tidur biar aku aja yang bersihin.”
“tapi mi-nya…..”
“aku aja yang
lanjutin” potongnya.
Aku tersenyum tipis
kearahnya. Dengan langkah hati-hati, aku beranjak dari dapur dan duduk di ruang
utama kost-kostan ini. Aku menyandarkan kepala ku diatas sofa empuk ini,
berusaha memejamkan mata sambil menatap punggung Vian yang sibuk bekerja. Namun belum sempat
mataku berhasil terpejam, ponsel disampingku bergetar. Bukan ponselku,
melainkan ponsel Vian. Kulirik nama yang terpampang dilayar. Aku nyaris
menggigit lidahku saat nama itu terbaca. Diana Azzahra. Kuangkat ponsel itu.
“Halo…” rasa panas
menyeruak dalam dadaku. Bibirku terasa bergetar tak karuan.
“…Hai Vian, ini aku
Ana. Apakah kamu sudah menyelesaikan resume mikro ekonomi kita ? Halo… Vian…
are you there?”
“dia tidak disini.”
“apa? Maaf, ini siapa?
Bukankah ini ponsel Vi--------“
Maafkan aku Vian, aku tidak ingin kau berbicara
dengannya. Aku tidak ingin semua omongan temanku tentang mu benar adanya. Aku
tidak sanggup untuk kehilangan mu.
Pernah suatu hari aku didekati oleh seorang teman lelakiku dari Fakultas Arsitektur ini, laki-laki ini sungguh tampan perempuan mana pun tak akan menolak bila didekatinya. Kadang dia memintaku untuk mau diantar olehnya ketika kuliah malam, dan tak pernah kutolak tawaran darinya. Kita saling bertukar fikiran. Kita selalu belajar bersama, dan pulang bersama. Sampai suatu saat Ia mengajakku menonton. Aku bingung aku takut tapi Ia selalu mendesakku agar mau ikut nonton bersamanya. Akhirnya tak kutolak tawaran itu.
“kamu udah makan?” Tanya brian padaku.
Aku mengalihkan
pandanganku darinya kea rah jendela. “Aku akan makan dirumah,” jawabku
“jadi kau mau aku
makan dirumahmu?”
“Apa?”
Brian tertawa pelan
melihat keterkejutanku. “Aku sangat lapar. Ayolah Arin. Biar aku yang
mentraktirmu”
Aku berjalan ragu ke
depan pintu salah satu kamar yang sering kali aku kunjungi dulu. Kuselipkan
kartu undangan itu dengan hati-hati dibawah pintu kamarnya. Dalam hati, aku
berdoa sekuat tenaga. Agar Vian tahu perasaanku. Agar Vian tahu betapa
berharganya kehadirannya bagiku. Agar Vian tahu, bahwa kehadiran puluhan orang
dalam acaraku itu tidak ada artinya dibandingkan kehadirannya.
Acara dimulai dengan
mc salah satu teman terpercayaku. Menyanyikan lagu Happy birthday untukku,
meminta agar aku membuat satu permohonan, meniup lilin, dan memotong kue.
Jelas, permohonanku ialah kehadiranmu disini, tak perlu yang lain hanya itu
yang aku inginkan sekarang.
Vian, dimana kau? Apa kau tak menerima undangan ku? Apa kau mau membiarkanku sedih disalah satu saat yang paling penting dalam hidupku? Vian, kumohon muncullah. Aku ingin melihat senyumanmu diantara para tamuku.
“Selamat Ulang Tahun, Arina Dwi Putri. I’m happy for you know” seru Brian memecah lamunanku.
“thanks Brian. And
thanks for coming”
“Anytime, dear” Deg.
Rasanya seperti jantungku berhenti berdetak. Dalam hati, andai Brian itu Vian.
Rumah kost-kostan itu sudah cukup gelap. Tak banyak lampu menyala disetiap kamarnya. Hanya beberapa lampu redup disetiap koridornya. Aku berjalan cepat menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar Vian dan memang lumayan jauh dari depan. Hujan membuat udara terasa agak dingin. Aku berjalan sampai sosok itu membuatku tercekat. Aku berjalan mendekat untuk melihat sosok itu lebih jelas. Mataku terbelalak. Vian meringkuk disana,didepan pintu kost-an ku. Wajahnya penuh luka, bajunya kotor dan sebagian kecil terpercik darah. Tubuhnya membungkuk dengan lemas, seakan tak kuat mengangkat bahu dengan tegak. “Vian, kamu kenapa?” tanyaku disela tangisan yang mendesak untuk tumpah. Vian tak menjawab. Dia hanya bergerak pelan mendekatiku dan memelukku. Napasku nyaris tehenti saat Vian menyandarkan dagunya dipundakku. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat merambat ditubuhku.
Aku menatapnya dengan khawatir dan bertanya “kamu berantem sama siapa? Ada masalah apa?”
Vian menggelengkan
kepalanya. “Cuma kecelakaan kecil”
“kamu pikir aku bisa
kamu bohongin gitu aja. Jelas-jelas ini bukan kecelakaan kecil. Pelipismu
lebam, pipi kamu lecet, bibir kamu darah semua vian! Ini kamu bilang kecelakaan
kecil?!”
Aku seperti ikut
merasakan perih yang dialami Vian. Gerakanku melambat saat menyadari tatapan
Vian yang sejak tadi tak berpaling dariku. Aku balas menatapnya dan senyuman
tipis muncul dari bibirnya. Senyuman yang kurindukan. “Maafkan aku” ucapnya.
“Maaf. Aku selalu buat kamu sedih. Aku Cuma bisa buat kamu nangis. Aku cuma
bisa bikin masalah buat kamu dan ngga tau mesti ngelakuin apa” Aku berusaha
tersenyum untuk menetralisir semuanya. “selama kamu masih inget untuk minta maaf,
aku ngga masalah kok.” Sekali lagi, maafkan aku Rin.” Ulangnya lagi dengan nada
yang lebih lembut.
“kau yakin baik-baik saja? Biarkan aku mengantarmu Rin” ucap Brian padaku.
“tak usah, terimakasih
atas antaranmu kali ini. Lebih baik kau pulang saja. Kelhatannya kau lebih
capek dariku”
“Baiklah.”
Aku memulai langkahku
masuk kekamarku yang jauh disana. Langkah ringanku terhenti saat kedua mataku
menatap dua sosok yang tidak asing bagiku. Mataku membulat ketika menyadari dua
sosok yang berhadapan itu adalah Vian dan. . . Diana Azzahra. Aku tak dapat
bergerak selangkah pun. Aku juga tak dapat mengalihkan pandanganku dari mereka.
Koridor kost-an ini membuat suara mereka terdengar begitu jelas.
“terimakasih, Vian.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku tanpa kau saat itu,” ujar Ana.
“sudah seharusnya aku
melakukan itu padamu. Tapi kau tidak apa-apa kan? Tidak terluka?”
Beberapa detik
kemudian, pemandangan itu membuat ku tercekat. ana bergerak mendekat dan
memeluk Vian erat. Air mataku tiba-tiba saja jatuh perlahan. Dan aku tak
memiliki kekuatan untuk menghapusnya. Aku hanya membiarkannya mengalir deras
sambil menatap Vian yang berada dalam pelukan Ana.
“terimakasih, Vian.”
Ujar Ana.”Kau sampai rela terluka hanya untuk melindungiku. Apa preman itu
menyakitimu? Aku benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi
sekarang bila kemarin kau tak melindungiku.”
Tubuhku mulai
bergetar. Mengetahui bahwa luka-luka yang menghiasi tubuh Vian adalah untuk
melindungi Ana, membuat dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Melihatnya begitu
pasrah menerima pelukan gadis lain membuatku semakin gila. Lalu, apa yang dia
lakukan kemarin? Untuk apa dia memelukku seakan tidak ingin kehilangan diriku?
Untuk apa?
Aku dapat melihat
ujung mata Vian menatap kehadiranku. Dia tak bergerak, hanya menatapku datar.
Aku segera masuk kekamarku dan menutup pintu rapat-rapat. Kusandarkan
punggungku yang berat pada pintu. Aku meringkuk dan menagis keras, tak peduli
jika semua orang mendengarnya, aku tak dapat menahannya lagi. Aku tak dapat
menehan rasa perih yang terus menyiksaku ini. Aku ingin berteriak agar semua
orang tahu. Aku benci dia. . . Aku sangat membencinya. . . . Tapi entah kenapa hatiku tidak pernah setuju
dengan apa yang barusan aku ucapkan.