Jumat, 14 Desember 2012

(Writing Challenge) Klimaks novel


Aku menatap undangan ditanganku dengan seksama. Kubalik undangan berwarna pink  itu berkali-kali. Kubaca tulisannya hingga aku mulai hafal bentuk hurufnya. Aku masih tak percaya bahwa  lusa esok aku tidak akan semuda sekarang. Aku tesenyum sendiri mengingat bagaimana kelakuanku dulu, mungkin ada sebagian yang masih kuingat jelas, sangat jelas. Dia yang selalu ada untukku. 

Aku berbohong jika mengatakan tidak cemas saat menjalani hari-hari awal dikampusku. Semua terasa asing, dan mungkin karna diriku sendiri pula yang terbiasa menutup diri dari orang lain. Aku menjalani hari-hari ku seperti biasa dikampus baru ku ini. Tanpa sadar bahwa seminggu lagi akan diadakan ujian.  Aku bergegas menghampiri  Vian, teman dekat lelakiku disini. Memang, jurusanku dan jurusannya agak berbeda tapi entah aku merasa sangat nyaman bila ada didekatnya. Kulihat Vian tersenyum tenang. Senyuman itu lagi. Yang membuatku bingung sekaligus merindukannya. Senyuman penghipnotis. Aku menunduk, memasukkan bukuku ke tas. Aku dan Vian memang hampir tiap hari bersama. Vian, dia memang satu-satunya yang berada disisiku. Tapi sayangnya, yang berada disisimu sekarang belum tentu milikmu. Seperti itulah Vian bagiku. Sangat dekat tapi tak tergapai. Dalam hati, aku terus menambahkan, mungkin belum tergapai.
Vian menawarkan cemilan yang dibelinya. Aku mengambil beberapa dan ikut memakannya. Selesai dari bioskop kami memutuskan untuk menghabiskan malam disalah satu mall. Aku tidak ingin cepat-cepat kembali kerumah. Lebih tepatnya, aku tak ingin hari ini cepat berakhir. “Rin,” panggilnya tiba-tiba membuka suara. “kamu tahu jalan cerita film tadi, kan? Dua tokoh utamanya kelihatan deket banget, tapi ternyata diakhir cerita mereka mesti pisah. Menurutmu, gimana kalau suatu hari kita ngalamin itu?” entahlah pertanyaan itu membuatku merasa takut . aku segera menoleh kearahnya, mencoba menemukan senyum penghipnotis yang membuatku percaya bahwa hal itu bukan pertanyaan serius. Dan sedetik kemudian yang kuharapkan itu muncul. “itu konyol kan?” ujarnya membalik pertanyaannya sendiri. Aku perlahan ikut tersenyum bersamanya.

Aku mengetuk pintu kamar kost-kostannya itu berkali-kali aku tidak bisa tidur sebelum melihat sosoknya dihadapanku. Aku terus mengetuk pintunya dengan tangan yang sedikit bergetar. Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka. Vian berdiri diambang pintu, dengan kaus hitam yang kusut, serta mata nyaris terpejam. “Arin, ada apa?” tanyanya dengan suara yang sedikit serak, khas orang bangun tidur. Tanganku yang bergetar membaik perlahan saat wajahnya muncul didepanku. “kamu udah makan? Laper ngga?” aku tau itu pertanyaan bodoh. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Vian pun tak menunjukkan ekspresi kelaparan. Aku sudah mempersiapkan diri pada penolakkan dan berencana untuk membalikkan badan saat dia berucap, “kamu masak apa?” Aku kembali mendongak, menatapnya. Matanya masih setengah terpejam. Sama sekali tak terdengar bunyi tanda lapar dari perutnya. “mau mi instan?” tanyaku pelan.

Kubuka bungkus mi dan mulai memasak mi itu, kubuka bumbu-bumbu itu. Kumasukkan bumbu-bumbu itu dengan hati hati. “hacchih!” bubuk cabe itu ikut tersebar dilantai saat aku bersin. Otomatis tubuhku melangkah mudur dan… prang! Salah satu mangkuk dibelakangku tanpa sengaja jatuh dan pecah, tersebar dilantai. “ada apa Rin?” Tanya Vian yang segera berlari menyusulku kedapur. Sebelum aku sempat menyentuh salah satu pecahan itu, kurasakan tangan hangat Vian menahan pundakku.
“Udah biar aku saja,” ucapnya.
“kamu udah capek. Lihat mata kamu itu! Mendingan kamu tidur biar aku aja yang bersihin.”
“tapi mi-nya…..”
“aku aja yang lanjutin” potongnya.
Aku tersenyum tipis kearahnya. Dengan langkah hati-hati, aku beranjak dari dapur dan duduk di ruang utama kost-kostan ini. Aku menyandarkan kepala ku diatas sofa empuk ini, berusaha memejamkan mata sambil menatap punggung  Vian yang sibuk bekerja. Namun belum sempat mataku berhasil terpejam, ponsel disampingku bergetar. Bukan ponselku, melainkan ponsel Vian. Kulirik nama yang terpampang dilayar. Aku nyaris menggigit lidahku saat nama itu terbaca. Diana Azzahra. Kuangkat ponsel itu.
“Halo…” rasa panas menyeruak dalam dadaku. Bibirku terasa bergetar tak karuan.
“…Hai Vian, ini aku Ana. Apakah kamu sudah menyelesaikan resume mikro ekonomi kita ? Halo… Vian… are you there?”
“dia tidak disini.”
“apa? Maaf, ini siapa? Bukankah ini ponsel Vi--------“
Maafkan aku Vian, aku tidak ingin kau berbicara dengannya. Aku tidak ingin semua omongan temanku tentang mu benar adanya. Aku tidak sanggup untuk kehilangan mu.

Pernah suatu hari aku didekati oleh seorang teman lelakiku dari Fakultas Arsitektur ini, laki-laki ini sungguh tampan perempuan mana pun tak akan menolak bila didekatinya. Kadang dia memintaku untuk mau diantar olehnya ketika kuliah malam, dan tak pernah kutolak tawaran darinya. Kita saling bertukar fikiran. Kita selalu belajar bersama, dan pulang bersama. Sampai suatu saat Ia mengajakku menonton. Aku bingung aku takut tapi Ia selalu mendesakku agar mau ikut nonton bersamanya. Akhirnya tak kutolak  tawaran itu.
“kamu  udah makan?” Tanya brian padaku.
Aku mengalihkan pandanganku darinya kea rah jendela. “Aku akan makan dirumah,” jawabku
“jadi kau mau aku makan dirumahmu?”
“Apa?”
Brian tertawa pelan melihat keterkejutanku. “Aku sangat lapar. Ayolah Arin. Biar aku yang mentraktirmu”
“Arin” Aku menarik napas saat menatap senyuman itu. Senyuman itu sungguh mirip dengan senyuman Vian. Namun, tak ada debar jantung, juga tak ada perasaan menghipnotis seperti yang biasa kurasakan tiap menatap senyuman lembut Vian. “Selamat Arin, kamu memang hebat bisa dapet job ini.” Ucapnya. “terimakasih Brian.” Senyumka padanya. “kau manis sekali, Arin.” Ujarnya membuat ku kembali menatapnya lekat-lekat. Brian tersenyum semakin lebar. Dalam hati, aku merasakan lubang yang sangat dalam. Aku terus berharap bahwa lelaki yang kini tersenyum padaku dan memujiku adalah pemilik senyum lain. Vian.  
Aku berjalan ragu ke depan pintu salah satu kamar yang sering kali aku kunjungi dulu. Kuselipkan kartu undangan itu dengan hati-hati dibawah pintu kamarnya. Dalam hati, aku berdoa sekuat tenaga. Agar Vian tahu perasaanku. Agar Vian tahu betapa berharganya kehadirannya bagiku. Agar Vian tahu, bahwa kehadiran puluhan orang dalam acaraku itu tidak ada artinya dibandingkan kehadirannya.
Acara dimulai dengan mc salah satu teman terpercayaku. Menyanyikan lagu Happy birthday untukku, meminta agar aku membuat satu permohonan, meniup lilin, dan memotong kue. Jelas, permohonanku ialah kehadiranmu disini, tak perlu yang lain hanya itu yang aku inginkan sekarang.

Vian, dimana kau? Apa kau tak menerima undangan ku? Apa kau mau membiarkanku sedih disalah satu saat yang paling penting dalam hidupku? Vian, kumohon muncullah. Aku ingin melihat senyumanmu diantara para tamuku.

“Selamat Ulang Tahun, Arina Dwi Putri. I’m happy for you know” seru Brian memecah lamunanku.
“thanks Brian. And thanks for coming”
“Anytime, dear” Deg. Rasanya seperti jantungku berhenti berdetak. Dalam hati, andai Brian itu Vian.

Rumah kost-kostan itu sudah cukup gelap. Tak banyak lampu menyala disetiap kamarnya. Hanya beberapa lampu redup disetiap koridornya. Aku berjalan cepat menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar Vian dan memang lumayan jauh dari depan. Hujan membuat udara terasa agak dingin. Aku berjalan sampai sosok itu membuatku tercekat. Aku berjalan mendekat untuk melihat sosok itu lebih jelas. Mataku terbelalak. Vian meringkuk disana,didepan pintu kost-an ku. Wajahnya penuh luka, bajunya kotor dan sebagian kecil terpercik darah. Tubuhnya membungkuk dengan lemas, seakan tak kuat mengangkat bahu dengan tegak. “Vian, kamu kenapa?” tanyaku disela tangisan yang mendesak untuk tumpah. Vian tak menjawab. Dia hanya bergerak pelan mendekatiku dan memelukku. Napasku nyaris tehenti saat Vian menyandarkan dagunya dipundakku. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat merambat ditubuhku.

Aku menatapnya dengan khawatir dan bertanya “kamu berantem sama siapa? Ada masalah apa?”
Vian menggelengkan kepalanya. “Cuma kecelakaan kecil”
“kamu pikir aku bisa kamu bohongin gitu aja. Jelas-jelas ini bukan kecelakaan kecil. Pelipismu lebam, pipi kamu lecet, bibir kamu darah semua vian! Ini kamu bilang kecelakaan kecil?!”
Aku seperti ikut merasakan perih yang dialami Vian. Gerakanku melambat saat menyadari tatapan Vian yang sejak tadi tak berpaling dariku. Aku balas menatapnya dan senyuman tipis muncul dari bibirnya. Senyuman yang kurindukan. “Maafkan aku” ucapnya. “Maaf. Aku selalu buat kamu sedih. Aku Cuma bisa buat kamu nangis. Aku cuma bisa bikin masalah buat kamu dan ngga tau mesti ngelakuin apa” Aku berusaha tersenyum untuk menetralisir semuanya. “selama kamu masih inget untuk minta maaf, aku ngga masalah kok.” Sekali lagi, maafkan aku Rin.” Ulangnya lagi dengan nada yang lebih lembut.

“kau yakin baik-baik saja? Biarkan aku mengantarmu Rin” ucap Brian padaku.
“tak usah, terimakasih atas antaranmu kali ini. Lebih baik kau pulang saja. Kelhatannya kau lebih capek dariku”
“Baiklah.”
Aku memulai langkahku masuk kekamarku yang jauh disana. Langkah ringanku terhenti saat kedua mataku menatap dua sosok yang tidak asing bagiku. Mataku membulat ketika menyadari dua sosok yang berhadapan itu adalah Vian dan. . . Diana Azzahra. Aku tak dapat bergerak selangkah pun. Aku juga tak dapat mengalihkan pandanganku dari mereka. Koridor kost-an ini membuat suara mereka terdengar begitu jelas.
“terimakasih, Vian. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku tanpa kau saat itu,” ujar Ana.
“sudah seharusnya aku melakukan itu padamu. Tapi kau tidak apa-apa kan? Tidak terluka?”
Beberapa detik kemudian, pemandangan itu membuat ku tercekat. ana bergerak mendekat dan memeluk Vian erat. Air mataku tiba-tiba saja jatuh perlahan. Dan aku tak memiliki kekuatan untuk menghapusnya. Aku hanya membiarkannya mengalir deras sambil menatap Vian yang berada dalam pelukan Ana.
“terimakasih, Vian.” Ujar Ana.”Kau sampai rela terluka hanya untuk melindungiku. Apa preman itu menyakitimu? Aku benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi sekarang bila kemarin kau tak melindungiku.”
Tubuhku mulai bergetar. Mengetahui bahwa luka-luka yang menghiasi tubuh Vian adalah untuk melindungi Ana, membuat dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Melihatnya begitu pasrah menerima pelukan gadis lain membuatku semakin gila. Lalu, apa yang dia lakukan kemarin? Untuk apa dia memelukku seakan tidak ingin kehilangan diriku? Untuk apa?
Aku dapat melihat ujung mata Vian menatap kehadiranku. Dia tak bergerak, hanya menatapku datar. Aku segera masuk kekamarku dan menutup pintu rapat-rapat. Kusandarkan punggungku yang berat pada pintu. Aku meringkuk dan menagis keras, tak peduli jika semua orang mendengarnya, aku tak dapat menahannya lagi. Aku tak dapat menehan rasa perih yang terus menyiksaku ini. Aku ingin berteriak agar semua orang tahu. Aku benci dia. . . Aku sangat membencinya. . . .  Tapi entah kenapa hatiku tidak pernah setuju dengan apa yang barusan aku ucapkan.

Senin, 04 Juni 2012

My New Blog

Welcome to my blog! It's my first post, enjoy to read and wait for my next post friends :)